Pages

Minggu, 09 Desember 2012

cerita pewayangan

Cerita cinta paling seru di dunia wayang
21 Feb 2009 33 Comments
by tridjoko in Uncategorized
Hanomanpun telah berhasil menyusup ke daerah musuh di Alengkadiraja yang penjagaannya konon paling ketat yang langsung diawasi oleh Raja Rahwana. Iapun menahan nafasnya dengan hati-hati supaya tidak terdengar oleh pengawal keputren yang menjaga Sinta, isteri Rama..
Sayup-sayup terdengar lagu nyanyian trenyuh yang mengiringi setiap langkah Hanoman ini :
Anoman ma/lumpat sampun/prapteng witing/nogosari… /Mulat mangandap/katingal/sang dyah ayu/kuru aking….
Hanoman telah/melompat/ke atas pohon/nagasari…./Melihat ke bawah/terlihat/sang wanita ayu/kurus badannya….
Hanoman has/jumped over/the tree of/nagasari…/Looking at bellow/seen by him/the beautiful woman/looks so frail….
Itulah salah satu segmen dalam cerita Ramayana yang dimulai dari tertariknya Maharaja Rahwana akan kecantikan Dewi Sinta yang ditinggalkan sendiri oleh Rama yang sedang berburu. Dengan ajian Rawarontek, Rahwanapun dengan mudah menarik, membopong dan melarikan Dewi Sinta tanpa kesulitan sama sekali karena semua penjaga Sinta jatuh tertidur dengan pulas begitu Rahwana telah datang di sekitar tempat Dewi Sinta lagi termenung..
Rama pun sangat kebingungan akan keberadaan isteri yang sangat dicintainya, Sinta. Dari olah TKP (tempat kejadian perkara), dan dengan saksi mata yang lengkap, berikut barang bukti materiil berupa selendang Dewi Sinta yang robek dan robekan kain Rahwana, Rama pun mengetahui bahwa seorang Raja yang sakti telah menculik isterinya ke sebuah pulau nun di ujung selatan negaranya…
Mengingat Raja Rahwana mempunyai bala tentara paling banyak jumlahnya, dipersenjatai dengan senjata paling modern, dengan doktrin negara yang kokoh, dan dijaga oleh Kumbakarna – adik Rahwana – raksasa yang sangat sakti, kelihatannya merupakan sebuah “mission impossible” bila Rama mengejar langsung Sinta menyeberangi lautan menuju Alengka. Karena kalau hal ini ia lakukan, ia seperti mengundang kematiannya sendiri (bahasa Jerman-nya “kutuk marani sunduk”…, Jerman = jejere kauman)..
Setelah hampir setahun Rama keluar masuk hutan dan tidak menemukan petunjuk tentang keberadaan Sinta, pada suatu hari Rama melihat seekor kera terjepit di antara 2 pohon. Dengan hati-hati kera tersebut ditolongnya dengan meminumkan sesendok demi sesendok air kelapa muda yang rasanya lebih enak dari “Ponari Sweat” itu. Ternyata kera yang menderita karena terjepit pohon itu bernama Sugriwa.
“Wahai Rama, raja yang agung, saya terjepit pohon karena dijepit oleh saudara saya Subali yang sangat sakti. Ia bisa mati, tapi begitu tubuhnya menjejak tanah, maka iapun hidup kembali”..
Rama pun lalu memberikan ilmu kanuragan dan ilmu olah pikiran tambahan sebesar 24 sks (setara program Master) kepada Sugriwa. Pada akhir program, Rama pun melakukan simulasi tempur dengan Sugriwa, dan Rama pun puas dengan kemajuan Sugriwa dan thesis akhir Sugriwa pun ia beri nilai A+ alias Magna Cum Laude…
Sugriwa pun siap untuk berangkat ke Gua Kiskenda, tempat Subali bertapa dan menunggui markas besarnya. “Hai Rama, wahai raja yang adil, jika saya nanti di Gua Kiskenda tolong diperhatikan aliran sungai yang keluar dari gua itu. Bila air sungai itu berwarna merah, berarti saya sudah tewas oleh Subali. Tapi bila air sungai itu berwarna putih, berarti Subali yang pralaya”..
Rama dan Sugriwa pun menuju gua kiskenda. Tapi untuk menjaga asas “fairness of the game”, Rama hanya menunggu di depan mulut gua. Iapun membangun bivak berupa daun pisang dan kayu-kayu kering yang berguguran. Tidak sampai 5 menit Sugriwa masuk gua, terdengar tereakan khas kera yang mere..mere..(Ngieh..geeeerrr …cuittt….geeeerrr…) dan gedebag-gedebug selama 7 hari 7 malam dan tidak ada jeda sedikitpun. Rama pun dengan sabar menunggui pertempuran antar 2 saudara yang paling sakti ini..
Di akhir hari ketujuh, ternyata sungai yang keluar dari Gua Kiskenda berwarna putih, berarti Subali pralaya dan Sugriwa pemenangnya…
Setelah menyembuhkan luka bekas pertempuran selama 10 hari 10 malam, Sugriwa pun merasa fit lagi. Dengan ditemani Hanoman, keponakan Sugriwa, dan 12 divisi pasukan kera…maka Rama, Sugriwa, Hanoman pun berjalan ke selatan menuju ke Alengka…
Singkat cerita, seperti nyanyian yang didendangkan oleh dalang …eh sinden, di awal cerita ini…
Cerita cinta Rama dan Sinta tidak ada duanya di dunia pewayangan. Secara kualitas dan kuantitas Cinta, cinta Rama kepada Sinta dan sebaliknya bener-bener “Nothing compare to you” lah…(lho kok jadi ngacau)…
Untuk jelasnya, baca aja deh komik Ramayana oleh R.A. Kosasih…
[Cerita ini saya persembahkan kepada teman saya Mas Didik alias Simbah, yang dulu waktu SD dan SMP suka memerankan Anoman dan karena itu sering mengelus-elus Dewi Sinta kecil yang diperankan oleh banyak cewek itu...]






Dongeng Cinta Kontemporer II - Metafora Asmara Bisma
Ditulis Oleh ARAGOS   
Minggu, 15 November 2009
SEPUTAR INDONESIA Sunday, 15 November 2009
KASMARAN TAK BERTANDA
   Dalang kondang Sujiwo Tedjo sedang memaparkan riwayat Bisma jatuh cinta dengan Dewi Amba. Pementasan wayang bertajuk Dongeng Cinta Kontemporer II "Kasmaran Tak Bertanda" itu berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 13 - 14 November Romeo-Juliet adalah kisah cinta sepanjang masa. Dalam pewayangan,kisah cinta Bisma-Amba tidak kalah memesona.Dalang Sujiwo Tedjo menempatkannya dalam situasi kekinian. Siapa yang tidak kenal kisah cinta yang dituturkan sepanjang masa dari nenek kepada cucunya dalam Romeo dan Juliet?
Kisah cinta mengharukan antara Bisma dengan Dewi Amba dibawakan oleh Sujiwo Tedjo dalam pentas wayang multimedia bertajuk Dongeng Cinta Kontemporer II “Kasmaran Tak Bertanda” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) 13-14 November. Kisah cinta antara dua insan tersebut, diawali dengan kisah kelahiran Bisma. Bisma dilahirkan di hari yang penuh air, ketika hujan melanda Jakarta dan ketika banjir mulai menggenangi setiap pelosok Ibu Kota. Setelah dewasa, dan pada hari yang dingin, Bisma akan dilantik oleh ayahnya menjadi Raja Astina.
Pelantikan Bisma ditandai dan dimeriahkan oleh paduan suara dan iringan piano dari Universitas Parahyangan. Sedang tata panggung menggambarkan hutan di dunia pewayangan di sebuah negara bernama Astinapura yang subur dan penuh dengan kehijauan pepohonan. Menjelang pelantikannya, tiba-tiba datanglah seorang perempuan. Perempuan itu minta pelantikan Bisma dibatalkan.Karena merasa anaknyalah yang berhak atas tahta kerajaan Astinapura.
 Ternyata suatu ketika, saat sang ayahanda Bisma, Prabu Santanu sedang berburu di hutan, sang ayahanda bertemu dengan seorang wanita yang kemudian digaulinya. Hingga akhirnya Bisma memiliki adik tiri yang baru diketahuinya menjelang dirinya akan dilantik menjadi Raja Astinapura. Kegalauan sang prabu digambarkan dengan hadirnya layar berwarna merah darah,seiring dengan sumpah kepada bumi dan semesta yang diikrarkan Bisma, demi kebahagiaan ayahandanya. Dalam sumpahnya, Bisma berteriak,“Hei alam raya, ketahuilah, aku Bisma yang berarti menggemparkan, telah meletakkan tahta. Hai perempuan, demi menguji kesetiaanku. Aku tidak akan pernah kawin sepanjang masa.” Dongeng Cinta Kontemporer II “Kasmaran Tak Bertanda” dilanjutkan dengan cerita raja baru telah dilantik menjadi Raja Astina. Namun, sebagai kakak tiri yang baik, Bisma merasa iba kepada adik tirinya, karena sang raja belum mendapatkan pendamping. Berangkatlah Bisma untuk melihat sayembara di negara tetangga yang waktu itu mengadakan sayembara untuk mencari pendamping tiga putri mereka yang cantik jelita. Dalam sayembara tersebut terjadi perang antara banyak orang. Perang itu digambarkan Sujiwo dengan apik dengan memasukkan unsur politis dalam pementasannya.“ Ada banyak orang, ada KPK, Polisi dan Jaksa, semua memperebutkan putri yang tengah mengadakan sayembara”. Dewa Brata atau samaran Bisma akhirnya memenangkan sayembara dan berhak mendapatkan sang putri.
 Di tengah jalan, saat pulang, Bisma teringat akan sumpahnya, tidak akan kawin sepanjang usianya. Akhirnya diputuskannya untuk mencarikan jodoh ketiga putri tersebut.Namun,salah satu putri, yaitu Dewi Amba tidak mau meninggalkan Bisma. Walaupun Bisma telah menyerahkan Dewi Amba kembali kepada kekasihnya.“Kamu Dewi Amba, sekarang di tengah jalan, aku ingat bahwa aku telah bersumpah wadak sehingga kamu tidak mungkin aku kawini.
 Kawinlah dengan saudaraku bernama Citrawiryo,”kata Bisma membujuk Dewi Amba agar mau menikah dengan adik tirinya. Namun, Dewi Amba menolak tawaran itu dan lebih memilih hidup seorang diri di alam raya.Kesendirian Dewi Amba digambarkan dengan sayatan biola yang melengking sunyi. Digambarkan pula Dewi Amba menganyam bunga padma yang tidak pernah layu sepanjang sejarah manusia. Dia menganyam dan bersumpah untuk menganyam padma sepanjang hidupnya.
 Di tengah pementasan, dalang yang juga penulis itu bercanda dengan penonton dan sedikit mengubah jalan cerita wayang yang dimainkannya. “Masa negara saja yang bisa berubah-ubah, pentas juga bisa ‘rek’,” kata Sujiwo Tejo menyindir kekisruhan yang terjadi akhirakhir ini, yang  disambut heboh tawa penonton. Kesendirian Dewi Amba,akhirnya terlihat oleh Bisma yang tengah bertapa di ketinggian.Dari tempatnya bertapa itu Bisma melihat seorang perempuan tengah merangkai padma, sambil menembangkan lagu Jawa yang sudah sangat tua. “Apakah dia merangkai bunga karena dendam kepada Bisma, atau dia cinta pada Bisma.
Betapa banyaknya profesor di dunia,tidak ada seorang pun yang bisa mendefinisikan tentang hati perempuan,” kata Bisma yang mulai merasakan bahwa dirinya jatuh cinta pada Amba. Dalam pertapaannya, Bisma selalu mereka-reka,siapakah yang kelak memakai kalung padma yang dirangkai Amba, sedang Perang Bharatayuda telah berjalan sembilan hari. Saat Bisma diangkat menjadi Senopati, pasukan Pandawa nyaris kocar-kacir ketakutan. Kresna penasihat Pandawa melihat negaranya akan hancur, lalu menitikkan air mata. Lagu sedih melantun dengan apik dari deretan penonton yang bercerita tentang peperangan. Sementara di layar tertulis, menangislah di laut, laut keringat kami.Berpesiarlah di laut, laut keringat kami. Bergerak, bergerak tetap bergerak.Berat kita pikul ringan kita jinjing. Sambil menampilkan foto anak-anak dan masyarakat kecil yang tengah berjuang hidup. Gambar perselingkuhan anggota
dewan, orang-orang diangkut Satpol PP, demo di DPR, kehancuran usai bencana,demo di manamana, Bibit dan Chandra,Anggodo dan foto para koruptor, menjadi gambaran yang menggambarkan kekacauan Astina saat itu. “Tidak ada yang tahu apa yang terjadi saat Perang Baratayuda.
Tidak ada yang tahu kalau Bisma tersenyum dalam kekalahannya ketika panah dari Srikandi dilepaskan,” kata Sujiwo Tejo di akhir pementasannya. Gugurnya Bisma diiringi dengan lagu Gugur Bunga dan di atas panggung digambarkan dua sosok tokoh wayang, Bisma dan Amba diangkat ke surga sambil bergandengan tangan dan sesekali berpelukan.
(bernadette lilia nova)

Dikutip Sepenuhnya dari Harian Seputar Indonesia:
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/284160/44/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar